IBADAH GSRI KEBAYORAN BARU

GSRI Kebayoran Baru merupakan Gereja Injili yang memiliki Visi menjadi Jemaat /Murid-murid Kristus Sejati serta menjalankan Misi Memberitakan Kabar Baik kepada seluruh bangsa. GSRI Kebayoran Baru sekalipun berlatar belakang Gereja Chinese, namun dalam perkembangan pelayanannya menjadi Jemaat yang terdiri dari berbagai suku dan budaya (13 Suku/Bangsa). Kami menyelenggarakan Ibadah yang Alkitabiah, dinamis, menarik dan dipersiapkan agar Jemaat dapat berdialog dan berinteraksiĀ  dengan Tuhan melalui Ibadah Peyembahan/ Puji-pujian, Pengajaran Firman Tuhan (Alkitab) dan Persekutuan sesama umat Tuhan. GSRI Kebayoran Baru juga memiliki ciri kekeluargaan, dimana semua Jemaat saling mengenal, saling berinteraksi dan saling mendoakan satu sama lain. Ajaklah sanak sudara dan rekan-rekan ssaudara-saudara terkasih dalam Kristus untuk bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Kristus Tuhan dan Firman-Nya)

Paskah GSRIKB 2017 web

hut-30-rcc1

Terletak di Jl. Wijaya I No. 23 Kebayoran Baru. Jakarta 12170. Telp. 021 7246978 Fax. 021 7254101. email: gsri@indo.net.id

Jika Anda sedang mencari tempat Beribadah dan ingin bertumbuh dalam sebuah Gereja Injili di sekitar wilayah Kebayoran Baru. GSRIKB mengadakan berbagai Ibadah mulai dari Sekolah Minggu hingga Dewasa. Kami juga melakukan Ibadah dalam bahasa Mandarin (Chinese/Mandarin Service) pada hari Minggu di Kebaktian Umum II. Ajaklah keluarga dan teman dan saudara Anda. Tuhan Memberkati.

JADWAL IBADAH GSRI KEBAYORAN BARU

  1. Ibadah Umum I (Bhs Indonesia) Minggu Pkl. 08.00 WIB
  2. Ibadah Umum II (Mandarin – Indonesia) Minggu Pkl. 10.30 WIB
  3. Ibadah Sekolah Minggu Pkl. 08.00 WIB
  4. Ibadah Remaja (SMP / SMA) Minggu Pkl. 08.00 WIB
  5. Persekutuan Wanita Setiap Selasa Pkl. 15.00 WIB
  6. Ibadah Doa (Tengah Minggu) Setiap Kamis Pkl. 19.00 WIB
  7. Ibadah Doa Pagi Setiap Sabtu Pkl. 06.00 WIB
  8. Persekutuan Pemuda – Sabtu Pkl. 17.00 WIB

Image result

PETA / MAP WIJAYA I / Map GSRI Kebayoran Baru: Jl. Wijaya I No. 23 Kebayoran Baru. Jakarta 12170. Telp. 021 7246978.

peta-wijaya-i

(Untuk Persembahan, Perpuluhan, Dana Pembangunan, Misi, dll., dapat dilakukan pada Bank BCA KCP Ciputat a.n GSRI-KB No. Rek: 4753006055).

PENDIRI GSRI

Ketika Dinasti Tang di daratan Tiongkok runtuh pada tahun 997 SM, ada pergumulan diantara pemimpin-pemimpin militer untuk mengambil alih kekuasaan. Pada tahun 960, Dzao Kwang Yin diangkat sebagai kaisar Tiongkok yang baru dengan nama Tai Tzu. Ia berhasil mempersatukan kekaisarannya dan dinasti Sung yang terkenal bertahan samapi tahun 1279.

Lahir di Shanghai pada tahun 1908 sebagai satu-satunya putera dari seorang pedagang, Dzao Yuen Chong adalah generasi ke-33 dari dinasti Sung. Ia dibesarkan oleh ibunya, seorang pemeluk agama Buddha yang setia. Dalam keluarga besarnya hanya ada dua orang Kristen, seorang paman yang menjadi anggota gereja Presbiterian dan seorang saudara sepupu yang mengajar Sekolah Minggu di Gereja Metodis. Yang terakhir inilah yang mengundangnya ke Sekolah Minggu ketika ia berusia 13 tahun. Ia menghadiri Sekolah Minggu selama 4 tahun dan menganggap Yesus sebagai seorang Guru Besar, setara dengan Buddha dan Khonghucu. Pada tahun 1924 ia dibaptis tanpa persetujuan ibunya dan menjadi anggota Gereja Metodis Shanghai. Tapi baru beberapa tahun kemudian dalam suatu kebaktian kebangunan rohani yang dipimpin oleh Padgett Wilkes, seorang missionary Inggris, Dzao Yuen Chong mengerti apakah ke Kristenan sebenarnya. Dia menerima Kristus sebagai Juruselamat dan menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan.

Ia mengganti namanya dari Dzao Yuen Chong menjadi Dzao Sze Kwang, yang artinya terang dunia. Pada tahun 1928, ia bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Kristen. Ia menerima tawaran Persatuan Misionari Kristen untuk menjadi pendeta di sebuah gereja kecil. Pada tahun 1932 ia ditahbiskan sebagai pendeta dan mengambil nama Timothy (Timotius) sebagai nama baptisannya. Ia menikah dengan seorang pemudi Kristen dan selama 8 tahun berikutnya bekerja membangun gereja kecil tersebut di samping aktif berkotbah di berbagai gereja.

Pada tahun 1928, Robert A. Jeffrey, seorang misionari dari Persatuan Misioanari Krsiten membentuk Misi Penginjilan Tionghoa dan merekrut hamba-hamba Tuhan Tionghoa untuk menjangkau Asia Tenggara. Salah satu hamba Tuhan yang mendaftarkan diri ialah Timothy Dzao. Pada bulan September 1937 Timothy Dzao meninggalkan gereja yang ia layani (jumlah anggota berkembang menjadi 600 orang dewasa) dan menggunakan waktu 5 tahun 6 bulan berikutnya berkotbah di Philipina dan Indonesia. Di Indonesia, ia bekerja bersama-sama para hamba Tuhan dari gereja Tionghoa mengadakan kebaktian kebangunan rohani di Menado, Makassar, Banjarmasin, Singkawang, Pontianak, daerah pedalaman Dayak, Jakarta, Semarang, Surabaya dan Bali. Dalam perjalanannya kembali ke Shanghai, ia juga berkotbah di Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam.

Pada tahun 1938, ia mengunjungi Pasifik Selatan untuk kedua kalinya dan menjadikan Jakarta sebagai “rumah”nya. Ia belajar bahasa Indonesia, berkotbah dan memulai koresponden Alkitab dalam bahasa Indonesia. Tahun 1940 ia kembali ke Shanghai dengan sebuah rencana untuk membawa sekelompok pemuda/I gereja ke Indonesia untuk pelayanan pionir. Tapi pada akhir tahun 1941 perang pasifik berkobar dan ia tak dapat kembali ke Indonesia.

Di Jakarta (Batavia) 4 orang Kristen yang bernama Kho Swan Nio, Kho Hong Nio, Lim A Ten dan Tjoa Kim Djwan, membeli sebuah rumah di Drossaerwerg Straat No. 185 (sekarang Jl. Tamansari no. 79) pada tanggal 5 September 1941. Mereka menyerahkan rumah tersebut sebagai Gereja Sidang Kristoes Batavia dan mengharapkan kembalinya Timothy (Timotius) Dzao untuk menjadi gembala sidang. Sementara itu, beberapa hamba Tuhan bergantian melayani jemaat yang kecil ini.

Dari tahun 1942 – 1947, Timotius Dzao mengkonsentrasikan pelayanannya di Shanghai dan sekitarnya. Ia mendirikan gereja Ling Liang di Nanking, Hang Chow, Su Chow, Ching Po, King Ko dan Enan. Ia mendirikan SD dan SMP, panti asuhan, rumah jompo, seminari Hwa Thung dan sekolah Alkitab. Seusai perang, ia juga mendirikan sebuah seminari di Hanchow. Pada bulan Agustus 1942, ia mendirikan Ling Liang World-Wide Evangelical Mission (LLWWEM) di Shanghai untuk mempromosikan Pengabaran Injil (PI), pembentukan gereja, pelayanan social di daratan Tiongkok, dan juga program Pengabaran Injil di seluruh dunia.

Pada tahun 1947, Timotius Dzao kembali ke Jakarta dan mengadakan satu seri kebangunan rohani di gereja-gereja Tionghoa dan melayani gereja Sidang Kristus. Tahun 1948, ia berkotbah keliling di Amerika dan Kanada lalu kembali ke Shanghai. Pada bulan Oktober 1943, dengan keluarganya ia meninggalkan daratan Tiongkok menuju Hongkong melalui Taiwan ketika Partai Komunis Tiongkok mengambil alih pemerintahan. Di tahun yang sama, LLWWEM Shanghai mengutus Moses Chow dan isterinya ke Jakarta sebagai misionari pertama untuk melayani gereja Sidang Kristoes Batavia.

Pada tanggal 6 Nopember 1949, Timotius Dzao memulai kebaktian siang menggunakan gedung gereja Baptis Kowloon. Yang hadir dalam kebaktian kebanyakan adalah orang-orang Kristen yang meninggalkan daratan Tiongkok. Pada tanggal 9 September 1952, gereja Ling Liang Kowloon terbentuk.

Pada bulan Januari 1950, Timotius Dzao menyewa gedung pertunjukan King di Hongkong untuk Kebaktian Minggu, memasang iklan di surat kabar dan membayar guru musik lengkap dengan sebuah paduan suara. Lebih dari 1000 orang menghadiri kebaktian. Di samping itu ia juga mengadakan kebaktian di lantai pertama gedung perkantoran yang menampung 400 orang. Gedung itu kini menjadi gereja Ling Liang Hong Kong.

Pada tanggal 5 Agustus 1950, Timotius Dzao kembali ke Jakarta; Moses Chow dan jemaat Sidang Kristoes Batavia menyetujui untuk mengganti nama gereja menjadi gereja Ling Liang Tamansari. Pada tanggal 23 Nopember 1950, gereja didedikasi dan Moses Chow ditahbiskan menjadi Gembala Sidang.

Pada bulan Maret 1951, Moses Chow memulai kebaktian dalam bahasa Mandarin, yang berkembang dan kini menjadi GSRI Kartini.

Di tahun 1953, gereja Ling Liang Hongkong mengutus misionari yang pertama, sdri Lo Su Wen, untuk bekerja di Singkawang dan di Pangkalan Kongsi, namun ia mati terbunuh di tahun yang sama.

Di tahun 1953 – 1954, Gereja Ling Liang (GSRI) Tamansari memulai pekerjaan di Karawang dan Cikampek. Misi berkembang dan di dua kota ini gereja Ling Liang terbentuk dan sekarang bernama GSRI Karawang dan GSRI Cikampek.

Di tahun 1955, Timotius Dzao berkunjung ke Jakarta dan bekerja bersama gereja Ling Liang Tamansari untuk mendirikan Sekolah Utusan Injil (Sekolah Latihan Pekabaran Injil) Sebagai bagian dari sekolah ini, didirkan sebuah tempat kebaktian yang kemudian berkembang dan menjadi Ling Liang (GSRI) Kebayoran.

Di tahun 1955, Universitas Gamaliel di Taipei mengadakan perluasan programnya di Jakarta. Timotius Dzao memberi ijin kepada pimpinan universitas untuk menggunakan sebagian tempat Sekolah utusan Injil untuk pertemuan mereka ketika mereka mencari tempat yang tetap. Pemerintah pada waktu itu, di bawah pengaruh Partai Komunis, menganggap Sekolah Utusan Injil sebagai bagian dari Universitas Gamaliel, Taipei yang menentang komunisme. Atas dasar kesalah-pengertian politik tersebut, Sekolah Utusan Injil ditutup dan sebagian besar tanah milik Sekolah Utusan Injil diambil-alih oleh pemerintah pada tahun 1958. Timotius Dzao kembali ke Hongkong dan mengarahkan pelayanannya dalam pendirian gereja sampai kematiannya pada tanggal 17 September 1973.

Sebagian tanah milik Sekolah Utusan Injil dikembalikan pada tahun 1979 dan untuk meneruskan misi dari Timotius Dzao, Institut Misi dan Alkitab Nusantara (IMAN) didirikan pada tahun 1981 di tempat yang sama. Pada tahun 1985 gedung IMAN yang baru dan lebih besar didedikasikan. Institus Misi dan Alkitab Nusantara ini sekarang menjadi Sekolah Tinggi Theologia IMAN.

Di daratan Tiongkok, sampai pada tahun 1951, ada sekitar 3000 anggota gereja Ling Liang di Shanghai dan sekitarnya. Di bawah tekanan dari Partai Komunis Tiongkok, pada tahun 1955, majelis gereja Ling Liang di Shanghai memutuskan hubungan dengan Timotius Dzao yang dituduh sebagai “agen imperialis”. Pada tanggal 22 September 1966, semua gereja di daratan Tiongkok ditutup.

Pada tahun 1946, Timotius Dzao diundang oleh gereja Presbiterian Taipei untuk suatu seri kebangunan rohani. Pada tahun 1947, ketika ia kembali ke Taiwan, gereja-gereja Persekutuan Timur Jauh di Taipei, Hsiuchu, Hsikong, Tainan dan Kaoh Shung memutuskan untuk menjadi bagian gereja Ling Liang.

Gereja Ling Liang Kowloon memulai misinya ke India dengan mengutus David Lamb, seorang hamba Tuhan. Ketika Timotius Dzao mendengar hal ini, ia mengambil inisiatif untuk mengadakan suatu seri kebangunan rohani di gereja Old Mission. Beberapa orang Kristen baru dibaptiskan sebagai hasil kebaktian ini. Didukung oleh gereja Ling Liang Kowloon, David Lamb dan keluarga tiba di Calcutta pada tahun 1949. Kebaktian “padang” diadakan di daerah Chinatown dan Tangra.

Pada tahun 1962, gereja Ling liang pertama dan SMA didirikan di pusat Chinatown, Calcutta. SMA tersebut sekarang menampung 1000 murid. Di tahun 1968, gereja Ling Liang Immanuel dan sekolah untuk anak-anak terlantar didirikan di Tangra. Pada tahun 1974, gereja Ling Liang Anugerah (GRACE) didedikasikan di Tangra, bersama dengan Ling Liang Junior College.

Pada tahun 1955, gereja Ling Liang New York dimulai. Pada tanggal 1 Juli 2000, gedung gereja Ling Liang New York yang baru didedikasikan. Pada tahun 1967 gereja Ling Liang Torrence di California dimulai diikuti oleh gereja Ling Liang di Orange County pada tahun 1988.

Di bulan September 1955, Timotius Dzao menerima gelar Doktor Kehormatan (D.D.) dari Taylor University Upland, Indiana dan juga dari Tennessee Temple College, Chattanooga, Tennessee pada tahun 1956. Pada bulan Oktober 1966, ia diundang menjadi salah satu pembicara pada Kongres Pengabaran Injil (PI) sedunia di Berlin Barat, Jerman, bersama Billy Graham, John R. W. Stott dan Carl. F. Henry.

Gereja ling Liang Philipina dimulai dari kelompok Pemahaman Alkitab (PA) yang dihadiri oleh 5 orang dan dipimpin oleh alm. Lulee Tan. Pada tahun 1987, gereja Ling liang Philipina didirikan di kota Manila.

Pada tahun 1973, Gloria Dzao, salah seorang puteri Timotius Dzao, diberi dorongan oleh ayahnya, memulai kelompok Pemahaman Alkitab (PA) di Toronto dengan nama persekutuan Ling Liang. Di tahun 1974, kelompok Pemahaman Alkitab (PA) ini dihadiri oleh 20 orang. Pada bulan Juni 1975, Kebaktian Minggu yang pertama diadakan dihadiri oleh 66 orang. Pada bulan Agustus 1975, gereja Ling Liang Toronto didirikan. Di tahun 1988, Pusat Pengabaran Injil (PI) Ling Liang dan Crescent Outreach didirikan.

Ling Liang World-Wide Evangelical Mission (LLWWEM) kini menjadi wadah persekutuan dari sekitar 45 gereja Ling Liang berikut pos-pos PI-nya di seluruh dunia.

Di tahun 1961, gereja ling liang Tamansari mengganti namanya menjadi Gereja Santapan Rohani Indonesia sesuai dengan himbauan pemerintah. Pos Tomang didirikan pada tahun 1962 dan Pos Bogor didirikan pada tahun 1966, kedua pos tersebut kini telah menjadi Jemaat mandiri dengan nama GSRI Tomang dan GSRI Bogor.

Catatan: Bahan diambil dari disertasi Debora K. Malik.
Kepustakaan
:

  • Mashburn, Charles. Timotius, Rasul Untuk Asia Tenggara. Djakarta : Penerbit Santapan Rohani, 1957.
  • Ong, Joshua. “Sejarah Gereja Santapan Rohani Indonesia,” di tahun ke 45 Gereja Santapan Rohani Indonesia Tamansari. Jakarta: Privately printed, 1994.
  • Ting, Richard, ed. Timothy S.K. Dzao, 1908-1973, Book of Rememberance. Torrence, CA: Privately printed by Ling Liang World-Wide Evangelistic Mission, 1993.

Sumber: http://www.gsritamansari.org/pendiri.php

SEJARAH GSRI DI INDONESIA

Sebelum Perang Dunia ke II, Alm. Pdt. Timothy Dzao Zse Kwang berbeban untuk bekerja di Indonesia. Maka pada tanggal 4 September 1941, beberapa saudara yang mengasihi Tuhan, antara lain Alm. Ny. Khouw Swan Nio, Alm. Ny. Khouw Hong Nio, Alm. Ny. Liem A Ten dan Alm. Ny. Tjoa Kim Djoan mempersembahkan sebuah rumah di Jl. Drossaersweg No. 185, Batavia yang sekarang dikenal dengan nama Jl. Tamansari 79 Jakarta Barat, untuk digunakan bagi pekerjaan Tuhan.


Maka dimulailah GEREJA SIDANG KRISTUS BATAVIA dan Alm Pdt. Timothy Dzao menjadi Gembala Sidang pertama sekaligus sebagai pendiri gereja tersebut.

Ketika terjadi Perang Dunia ke II, Alm. Pdt. Dr. Timothy Dzao sedang berada di Shanghai, sehingga ia tidak dapat kembali ke Indonesia, pelayanannya di Batavia (Jakarta) kemudian diteruskan antara lain oleh Pdt. Lie Beng Tjoan dan Pdt. Jason Linn.

Pada bulan Desember 1942, Alm. Pdt. Dr. Timothy Dzao mulai bekerja di Shanghai dengan tujuan “Pergi ke seluruh bumi beritakan Injil“, yang kemudian menjadi motto seluruh Gereja Santapan Rohani Indonesia dan siap melakukan penginjilan dan mengutus hamba-hamba Tuhan ke Indonesia.

Untuk itulah kemudian Alm. Pdt. Dr. Timothy Dzao mendirikan LING LIANG WORLD-WIDE EVANGELISTIC MISSION (LLWEM) yang berpusat di Hongkong. Gereja Sidang Kristus Batavia yang sudah ada di Batavia (Jakarta) menjadi objek tempat penginjilannya. Selama tahun 1943, beberapa saudara dengan pertolongan Alm. Pdt. B.L. Ho yang juga membantu pelayanan Alm. Pdt. Dr. Timothy Dzao mendirikan YAYASAN SIDANG KRISTUS BATAVIA yang berdiri sendiri.

Pada tahun 1949, Ling Liang World-Wide Evangelistic Mission mengutus Pdt. Moses Chow Chu Be dari Shanghai sebagai Missionari pertama ke Indonesia untuk membantu pelayanan Sidang Kristus Batavia dan bertugas sebagai Gembala Sidang.

Pada tanggal 5 Agustus 1950, melalui persetujuan bersama anggota Pengurus Yayasan Sidang Kristus Batavia dilakukan perubahan nama Yayasan Sidang Kristus Batavia menjadi Yayasan Ling Liang World-Wide Evangelistic Mission. Bangunan gedung gereja yang berbentuk rumah tinggal dipugar dan dibangun suatu gedung gereja baru.

Pada tanggal 25 Nopember 1950, gedung gereja yang baru dipersembahkan kepada Tuhan dan tanggal inilah yang sampai sekarang ditetapkan sebagai tanggal berdirinya GEREJA LING LIANG THANG.

Pdt. Moses Chouw Chu Be menggembalakan Sidang Jemaat Ling Liang Thang yang kemudian dirubah menjadi GEREJA SANTAPAN ROHANI TAMANSARI. Tahun 1949 – 1956, dalam masa penggembalaan Pdt. Moses Chouw Chu Be merupakan periode yang penting bagi perkembangan GEREJA SANTAPAN ROHANI INDONESIA. Selama periode ini ada beberapa hal penting yang harus kita ketahui yakni :

  1. Terdapat sebagian Jemaat yang kurang fasih berbahasa Indonesia, maka pada bulan Juli 1951 didirikanlah Pos Kuo Yu yang kini menjadi GEREJA SANTAPAN ROHANI INDONESIA KARTINI di Jl. Kartini VI No. 2, Jakarta Pusat.
  2. Tahun 1953, pertama kali GEREJA SANTAPAN ROHANI INDONESIA TAMANSARI mengutus misinari pertama ke Kalimantan Barat, yaitu Miss LO SOUW WEN, akan tetapi dalam waktu yang singkat ia dipanggil Tuhan karena terbunuh dalam suatu peristiwa. Ini adalah darah sahid pertama GEREJA SANTAPAN ROHANI INDONESIA. Sekarang ini kita bisa saksikan darahnya yang telah tertumpah tidaklah sia-sia, karena di Singkawang dan sekitarnya nama Tuhan dipermuliakan dan telah membuahkan GEREJA SANTAPAN ROHANI INDONESIA di sana.
  3. Sesuai dengan motto GEREJA SANTAPAN ROHANI INDONESIA, maka pada tahun itu pula dibuka Pengabaran Injil di Cikampek, Jawa Barat, kemudian di Karawang, Jawa Barat. Pelayanan ini dilayani oleh Alm Sdr.& Ny. Tan Lie dan Tan Bik Gwan (sekarang berdiam di Australia). Saat ini telah menjadi GEREJA SANTAPAN ROHANI INDONESIA CIKAMPEK dan KARAWANG yang dilayani oleh Pdt. YOHANES EDDY dan GI REBEKAH LUKAS (istri dari Pdt. Yohanes Eddy).
  4. Dalam usaha untuk memenuhi rencana jangka panjang, Gereja Santapan Rohani Indonesia membuka Sekolah Latihan Pengabaran Injil di Kebayoran Baru, Tetapi saying tidak berapa lama kemudian ditutup. Dari peristiwa ini kemudian berdirilah GEREJA SANTAPAN ROHANI INDONESIA KEBAYORAN BARU yang bermula dari kebaktian “chapel” mahasiswa Sekolah Latihan Pengabaran Injil. Puji syukur kepada Tuhan, meskipun sudah ditutup selama 20 tahun, tetapi dengan anugerah Tuhan, gedung Sekolah Latihan Pengabaran Injil ini dikembalikan pada tahun 1979. Kemudian dengan visi dan tujuan yang sama dilanjutkan melalui INSTITUT MISI ALKITAB NUSANTARA (IMAN) yang dimulai tahun 1981, yang sekarang dikenal dengan nama SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA IMAN (STT IMAN) yang juga telah berbuah. Periode ini merupakan bagian penting GEREJA SANTAPAN ROHANI INDONESIA TAMANSARI, karena menjadi dasar bagi pelayanan Gereja Santapan Rohani Indonesia.

Tahun 1956, Pdt. Moses Chow Chu Be berangkat ke Amerika untuk studi dan Alm. Pdt. Timothy Dzao kembali melayani di Gereja Santapan Rohani Indonesia Tamansari dibantu oleh Pdt. Tjung Wie Mie (Pdt. Nehemia Mimery) selama periode 1958 – 1962.

Tanggal 27 Februari 1961, nama LING LIANG THANG dirubah menjadi GEREJA SANTAPAN ROHANI INDONESIA dan selama periode 1962 – 1971 ini dilayani oleh Alm. Pdt. Timothy Lokananta.

Kemudian Gereja Santapan Rohani Indonesia Tamansari meluaskan pembukaan pos di Bogor pada tahun 1964, di Tomang pada tahun 1969, di Nglames pada tahun 1978, di Citra Garden Jakarta pada tahun 1995, di Duta Bandara pada tahun 1997 dan di Sunter pada tahun 1998.

Periode 1971 – 1976, merupakan perjuangan yang sangat berat yang harus dialami bersama, karena pada masa itu terjadi pergumulan untuk membangun kembali Gereja Santapan Rohani Indonesia Tamansari setelah mengalami krisis pada tahun 1971 (karena Pdt. Sutjiono yang saat itu melayani berselisih dengan Majelis yang mengakibatkan keluarnya Pdt. Sutjiono dari GSRI Tamansari dan pecahnya Jemaat GSRI Tamansari yang sebagian mengikut Pdt. Sutjiono yang kemudian mendirikan Gereja Kehidupan Rakhmani Indonesia/GKRI. Catatan dari penyusun) . Setelah terjadi perpecahan tahun 1971 ini, maka Pdt. John Chung diminta untuk membantu pelayanan di Gereja Santapan Rohani Indonesia Tamansari sebagai Pendeta konsulen bersama GI Joshua Ong yang telah menamatkan studinya di Seminari Theologia Baptis Indonesia di Semarang tahun 1968.

Sumber: http://www.gsritamansari.org/sejarah.php

Gereja Santapan Rohani Indonesia Kebayoran Baru