KHOTBAH

MUSIM SEMI DAN MUSIM GUGUR

BAGAIMANA BERSIKAP BENAR TERHADAP MASALAH

Kehidupan manusia paling tidak dapat digambarkan dalam dua musim yang mewakili masa-masa indah dan tenang dengan masa-masa sulit dalam hidup ini. Musim semi dapat diibaratkan sebagai masa dimana segala sesuatu dalam hidup kita berjalan lancar dan menyenangkan. Relasi dalam keluarga kelihatan baik dan harmonis, pekerjaan atau pelayanan pun berjalan dengan sangat baik. Tentu semua orang menginginkan siatuasi seperti ini dalam hidupnya, namun ternyata tidak seterusnya dalam hidup ini hanya musim semi yang indah saja. Selalu saja ada musim gugur, dimana hidup tampak begitu sulit dijalani, muncul masalah-masalah dan konflik dalam relasi keluarga, muncul masalah dalam pekerjaan atau pada hal-hal yang lain. Ketika saat-saat seperti ini tentu tidaklah menyenangkan bahkan kalau bisa setiap orang ingin menghindarinya. Namun ternyata manusia tidak memiliki pilihan untuk memilih salah satu dari keduanya, kita tidak bisa memilih hanya ingin musim semi saja dan menolak musim semi. Belajar dari Ayub ketika ia telah kehilangan segala sesuatu dalam hidupnya, ia kehilangan semua harta kekayaannya yang melimpah dan ia juga kehilangan 10 anak-anaknya. Bukan hanya itu, setan menuntut menguji kesalehan Ayub kepada Allah dengan memberikan penyakit borok disekujur tubuhnya ( interprestasi kedkteran menyatakan bahwa kemungkinan sekalai Ayub diserang demam tinggi, kepala yang sangat pening, susah makan dan sulit tidur). Tidak berhenti ujian dan pencobaan yung dialami Ayub, sang isteri yang diharapkan sebagai pendukung dan penghibur di kala duka justru mengutuki Ayub “Ayub! masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah! Kata-kata seperti ini tentunya jika keluar dari mulut seorang yang sangat dikasihi dan diharapkan kasih dan perhatiannya akan menjadi seperti tamparan “gledeg” bagi orang yang mengharapkannya. Namun respon Ayub ditengah kesakitannya sungguh luar biasa, justru ia kelihatan lebih waras dari isterinya yang tidak mengalami sakit: Jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” (Ayub 2:9-10).

Apa yang dapat kita pelajari  dari Ayub dalam menghadapai masa-masa sulit (musim gugur) adalah sikap dan responnya dalam menghadapi masalah. Pertama sikap Ayub dalam menerima segala keadaan dengan hati lapang dan berserah pada Allah. Masalah tidak akan pernah hilang, masalah tidak akan pernah berhenti datang, bahkan ketika seseorang yang sedang bertekun dan bertahan dalam kesalehan hidup, dalam usaha untuk hidup suci HADIRNYA masalah dan konflik bisa datang kapan saja. Ujian Iman sejati justru terjadi saat seorang Kristen sedang berusaha hidup dalam ketaatannya kepada Allah dan pada saat bersamaan muncul masalah dan  konflik dalam hidupnya, namun ia tetap bertekun dalam kesalehannya kepada Allah.

Masalah bukan untuk dihindari atau dijadikan ‘momok’ yang menakutkan dalam hidup ini. Sikap menerima dan pasrah yang ditunjukkan Ayub adalah sikap terbaik yang harus dimiliki oleh setiap orang Kristen dalam  hidupnya. Ayub sadar betul bahwa segala sesutau yang dimiliki orang Kristen adalah pemberian Allah bahkan pinjaman dari Allah dan ada tanggungjawab dari setiap kita untuk mengelola secara bertanggungjawab setiap hal yang dikaruniakan Allah kepada kita. Segala sesuatu adalah dari Allah, dan segala sesuatu adalah untuk kemuliaan Allah, sampai selama-lamanya segala kemuliaan bagi Allah. (Roma 11:36; Kol. 1 :16). Jadi setiap orang Kristen harus rela dan dengan sikap menyembah dan bersyukur kepada Allah jika sesuatu diambil dari hidupnya (kehilangan sesuatu atau anggota keluarga). Allah berdaulat untuk memberi dan Allah berdaulat untuk mengambil. Ayub Bersukur kepada Allah atas apa yang diterimanya dari Allah dan ia pun bersyukur atas apa yang diamlbil Allah dari dirinya.

Hadirnya  masalah dalam hidup manusia kebanyakan bersifat membangun dan menantangnya untuk berhasil menghadapi masalah itu. Ketika masalah muncul seringkali disana manusia lebih bergantung kepada Allah, lebih banyak berefleksi tentang diri dan Allah dan tentang kehidupan ini, lebih sadar dan lebih mendalami makna hidup, jika dihayati dengan baik. Menerima dan menyikapi kenyataan masa-masa sulit sangat penting bagi kita semua.

Dalam sebuah cerita inspirasinya Andre Wongso pernah menceritakan ilustrasi berikut: “ Suatu pagi di sebuah musim gugur, nampak seorang anak bekerja menyapu halaman luar sebuah asrama. Pohon rindang di sekitar halaman itu nampak berguguran daunnya. Setiap hari anak muda itu selalu bekerja rajin dan teliti untuk menyingkirkan dedaunan dari halaman asrama itu, namun dedaunan dan ranting pohon rindang itu tetap saja berguguran. Anak itu pun mengeluh dengan keadaan itu. Kemudian dia termenung demi mencari cara untuk masalahnya itu. Tiba – tiba Kepala Asrama yang melintas di depan halam itu menyapa anak muda tadi. Dengan santai dikatakanlah apa yang ada dalam benaknya mengenai dedaunan, ranting dan halaman asrama. Kepala Asrama itu tersenyum mendengar perkataan anak muda itu. Sekonyong – konyong Kepala Asrama memberikan ide untuk menggoyangkan setiap pohon, agar daunnya jatuh lebih banyak. Menurutnya dengan banyaknya daun yang gugur hari ini, maka besok halam akan relatif bersih dedaunan dan ranting kering. Ide itu diterimanya dengan semangat. Lalu dicobanyalah ide kepala asrama itu. Semua pohon digoyang – goyangkannya, berharap bahwa besok dia bisa beristirahat baeang sehari karena tidak perlu membersihkan halaman asrama. Malam harinya anak itu  tidur dengan nyenyak dan puas. Ketika bangun keesokan harinya, dengan cepat dia keluar kamar. Seketika harapannya berubah kecewa ketika melihat ada daun di halaman asrama. Kepala Asrama kebetulan ada disana dan melihat ulahnya. Kepala Asrama itu lalu berkata bahwa musim gugur adalah fenomena alam. Bagaimanapun daun disapu bersih, keesokan harinya akan tetap ada daun rontok untuk dibersihkan. Kita tidak bisa mengubah kondisi alam sesuai keinginan kita. Daun yang harus rontok tidak bisa ditahan atau dipaksa rontok. Karena itu jangan kecewa untuk harus bekerja setiap hari. Nikmatilah pekerjaan kita dengan hati senang. Petuah bijak dari Kepala Asrama menjadi pelajaran hidup berarti bagi anakitu. Segera setelah menyadari kekeliruan berpikirnya, anak itu lalu menuju sapunya untuk kembali melakukan tugasnya.

Jika kita bekerja dengan suasana hati yang tidak gembira, maka semua pekerjaan yang kita lakukan akan terasa berat, mudah timbul perasaan jenuh dan bosan. Ini semua akan mempengaruhi sikap kita dalam bekerja yang hasilnya dalam pekerjaan kita akan mengecewakan. Pepatah Mandarin mengatakan “Selesaikan pekerjaan hari ini dengan sebaik – baiknya karena besok masih ada pekerjaan baru yang harus diselesainkan”. Kalau kita sudah mampu menikmati setiap pekerjaan dengan penuh kesabaran dan tanggungjwab, maka setiap hari pasti menjadi hari kerja yang menggembirakan. Dan setiap besok akan menjadi hari yang penuh harapan dan menggairahkan. Mari kita cintai dan nikmati setiap pekerjaan yang kita lakukan dengan semangat dan sukacita, maka hasil yang kita dapatkan akan maksimal dan memuaskan [ Written by Andrie WongsoMonday, 16 February 2009 02:36, Smartfm.co.id ]

Bunga terindah seringkali muncul setelah musim gugur dan musim salju, apel terbaik dn paling renyah dan manis seringkali diproduksi setelah musim salju berlalu, jeruk termanis pun dihasilkans setelah masa  musim salju. Demikianlah seharusnya orang-orang Kristen yang mau bertekun dalam kesalehan di masa-masa sulit akan muncul lebih indah, lebih matang, lebih dewasa. Alkitab pun berkata bahwa dalam kesulitan apa pun Allah tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya dan Ia bersedia mengambil bagian dalam penderitaan anak-anak-Nya: “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:23). Sekalipun masalah dan pencobaan akan selalu hadir dalam hidup ini, namun tidak ada masalah atau pencobaan yang tidak dapat ditanggung oleh manusia. “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13). Tuhan menghendaki semua anak-nak-Nya bertekun dalam kesalehan, sekalipun ditengah ketekunan itu akan muncul banyak sekali masalah dan kesulitan hidup. God Bless. (Pdt. Robert R. Siahaan, M.Div).

Sumber: http://robertsiahaan.com/

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>